PUISI | RATAPAN SANG IBU PERTIWI


RATAPAN SANG IBU PERTIWI

Wahai para generasi penerus bangsa, tidakkah kau mendengar jeritan ibu pertiwi kita?
Tidakkah kau mendengar ratapan dan tangisan negeri kita tercinta?
Saat kau memilih menutup mata
Dan menikmati produk yang akan menjajah kita
Setiap hari terus-menerus berpura-pura
Menutupi rasa sakit kita
Mendengarkan bualan para pendusta
Membiarkan para bedebah meraja lela

Saat para pengkhianat dan penipu kau biarkan menjadi pemimpin
Dan kau lebih tenang di pimpin oleh orang-orang yang pandir
Apa kau tidak mendengar ibu pertiwi merintih, merana
Melihat kau meninggalkan budaya kita yang kaya
Dan beralih ke pergaulan bebas yang adi daya

Apa kau sudah mulai lupa?
Saat gurumu berpetuah
Tentang para pemuda yang dulu bersumpah
Atas nama tanah air kita
Atas nama bangsa dan bahasa kita
Mengorbankan segenap jiwa dan raga
Mengusir para penjajah dari tanah hijau kita tercinta

Hilanglah sudah semua
Rumah yang dulu kita harumkan
Tanah yang dulu kita perjuangkan
Hanya tinggal lagu-lagu yang mengingatkan masa kejayaan kita
Karena kita, karena tangan kita
Karena kita memilih terdiam
Dan menutup kedua telinga kita

Kita biarkan rumah kita kembali terjajah
Kita tak peduli kehilangan rumah kita yang indah
Hanya untuk sejumput uang haram
Hanya untuk secuil kekayaan

Zaman berubah, dan negeri kita semakin terpecah belah
Apakah tanah kita masih tanah surga yang dulu kita banggakan?
Apakah tanah air kita ini masih tanah yang menjanjikan?
Sungguh memalukan! Itu semua hanya tinggal kebohongan.
Sungguh menyedihkan! Itu semua kini hanya tinggal bualan.

Sekarang, apa yang akan kalian lakukan?


 L.A

amelia

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar